Saturday, 11 May 2013

[Cerita] ANAK SULBAR MINTA KEADILAN DARI GUBERNUR Oleh: Aco Ahmad

Cerita has posted a new item, 'ANAK SULBAR MINTA KEADILAN DARI GUBERNUR Oleh:
Aco Ahmad'


Anshar Sanjaya, salah satu pelajar dari ribuan anak di Sulawesi Barat, yang
merasakan adanya ketimpangan struktur buramnya dunia pendidikan. Anshar begitu
sapaan akrabnya dikalangan teman-temannya tidak mau melewatkan begitu saja
dengan memanfaatkan wadah Forum Anak untuk meminta ada keadilan terhadap
anak-anak yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang dikirim kepada gubernur
Sulbar, Anwar Adnan Saleh.

Dari raut wajahnya, Anshar Sanjaya yang baru pertama kalinya menginjakkan
kakinya digedung mewah kantor gubernur ini terlihat sumbringah namun begitu dari
raut wajahnya yang luguh itu terlihat ikut memendam beragam persoalan yang
menimpa sebahagian anak-anak di daerahnya.

Bangga rasanya bisa menginjakkan kaki kami di gedung mewah yang dibangun dengan
menggunakan uang rakyat. Tetapi, apakah pak gubernur juga ikut merasakan betapa
sulitnya anak-anak diluar sana untuk mendapatkan pendidikan yang lebih memadai.
Ini tidak adil jika pemerintah hidupnya diwarnai dengan dunia glamor serta
bermewah-mewah, sementara ribuan anak diberbagai pelosok Sulbar harus belajar
melantai karena tidak adanya sarana dan prasarana penunjang pendidikan, ungkap
Anshar yang juga pelajar SMP asal Kabupaten Polman ini dengan nada lantang.

Bukan hanya, Anshar Sanjaya yang mengirim sepucuk surat untuk gubernur. Namun,
40 siswa yang ikut serta dalam kegiatan Forum Anak juga mengirim surat keluhan
yang sama. Puluhan anak yang datang dari pelosok desa ini mengirim surat karena
ancaman meningkatnya kasus-kasus ekploitasi anak dibawah umur serta meningkatnya
angka putus sekolah akibat benturan beban ekonomi.

Sebetulnya kami mengharapkan bisa bertemu langsung dengan pak gubernur Sulbar,
Anwar Adnan Saleh. Namun, impian itu tidak terwujud sehingga cukup menyurat
untuk menjadi bahan renungan pemerintah daerah sering munculnya rasa
ketidakdilan yang dirasakan para pelajar yang ada di Sulbar, ucap Ansar Sanjaya.

Anak sebagai generasi penerus perjuangan harusnya mendapat perlindungan dari
pemerintah sehingga tak satu pun anak di Sulbar kehilangan hak-hak hidupnya. Tak
bisa dipungkiri lagi kebanyakan anak-anak di Sulbar mulai dipaksa kehilangan
haknya untuk mendapatkan pendidikan. Akibatnya, banyak anak terpaksa buta huruf
karena tak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang bangku sekolah yang lebih
tinggi.

Tindakan kekerasan anak serta faktor beban ekonomimenjadi pemicu hak-hak anak
untuk mendapatkan pendidikan secara baik terpaksa terenggut.

Kami minta kepada pak gubernur untuk membuka mata melihat kondisi kekinian yang
dirasakan oleh anak-anak di Sulbar. Tidak bisa dipungiri, di daerah kami
terpaksa ada yang harus meneguk racun akibat tak mampu melanjutkan pendidikan ke
jenjang sekolah SMP, ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Besar harapan kata dia,kelak lahir pemimpin masa depan yang lebih bijak sehingga
tidak ada lagi anak-anak Sulbar yang mendapatkan perlakukan tidak adil sehingga
hak-haknya untuk berkembang juga didapatkannya.

Kami impikan kelak lahir sosok pemimpin masa depan yang lebih peduli terhadap
persoalan anak. Pemerintah harusnya mampu mengembalikan hak-hak anak untuk
mendapatkan pendidikan yang lebih layak dan memadai, ungkapnya.

Nur Ainun, salah seorang pelajar dari Kabupaten Majene juga mengeluhkan fotret
wajah pendidikan di daerahnya.

Majene sebagai kota pendidikan masih sangat memprihatinkan. Saat ini masih
banyak gedung sekolah yang tidak memiliki mobiler sehingga ada siswa terpaksa
melantai untuk mendapatkan pelajaran, ungkapnya.

Bukan hanya itu kata dia, saat ini ada salah seorang temannya yang baru saja
melaksanakan Ujian Nasional (UN) SMP terancam tidak melanjutkan pendidikan ke
SMA akibat perkawinan usia dini.

Perkawinan usia dini hendaknya menjadi perhatian pemerintah. Jangan biarkan ada
anak dibawah umur melakukan perkawinan. Jika perlu dibuatkan perda perkawinan
usia dini Pak, ungkapnya.

Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulbar, Drs.H.Ismail Zainuddin yang menerima
puluhan anak-anak yang tergabung dalam Forum Anak ini juga tak mampu
menyembunyikan kesedihannya dengan mendapatkan pertanyaan dari perwakilan
anak-anak yang ada di Sulbar.

Surat yang ada kirimkan ke pak gubernur akan kami sampaikan. Kami apresiasi atas
kritikan dan saran yang ada dalam surat ini, kata Ismail.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan ini berjanji, surat ini akan dimasukkan dalam
biografi pembuatan buku gubernur Sulbar dan termasuk dibuatkan buku untuk
diarsipkan.

Surat ini memiliki makna yang sangat berarti. Makanya, kita akan bukukan
sehingga menjadi bahan bacaan di perpustakaan, ungkap Ismail.

Dari 40 pucuk surat ini, satu diantaranya akan mendapatkan kesempatan untuk
kembali dibacakan suratnya pada momentum perayaan Hari Ulang Tahun Gubernur
Sulbar, Anwar Adnan Saleh.

Jadi saya pilih secara acak. Siapa pun yang beruntung harus bersiap-siap
membacakan suratnya pada perayaan hari jadi pak gubernur. Kita lihat saja dimana
pak gubernur merayakan hari jadinya. Jika dirayakan di China, maka surat itu
juga akan dibacakan di negara itu, katanya.

Bukan hanya itu, kicauan surat yang dilayangkan anak-anak yang tergabung dalam
Forum Anak Sulbar ini juga akan dimasukkan dalam pembuatan buku biografi
gubernur Sulbar.

Sebanyak 40 pucuk surat ini akan kita dokumentasikan dan bahkan sebagian akan
kita seleksi untuk dimasukkan dalam biografi gubernur Sulbar, ungkap Ismail.

Mantan kepala Dinas Pendidikan Nasional Sulbar ini menyampaikan, surat yang
dituliskan anak-anak tersebut beranjak dari kata hati mereka yang dituangkan
dalam bentuk tulisan.

Rata-rata surat ini menyangkut persoalan pendidikan anak serta terkait
perlindungan anak. Ini hendaknya, menjadi perhatian bersama agar persolan
pendidikan dan hak-hak anak menjadi perhatian bersama, ungkap Ismail.

Usai melaksanakan dialog tersebut maka rombongan Forum Anak Sulbar ini diberikan
kesempatan untuk meninjau ruang kerja gubernur dan beberapa bagian ruangan di
kantor gedung mewah ini.

Momentum ini juga dimanfaatkan oleh puluhan anak-anak dengan melakukan foto
bersama di ruang kerja orang pertama di Sulbar itu.

Hal lain yang mengejutkan, Sekprov setelah mendengarkan lantunan bait puisi
berjudul Maling yang dibacakan Desi Ratnsari, pelajar SMP Kabupaten Polman.

Saya sempat terdiam menyimak bait demi bait puisi yang dibacakan ananda Desi
Ratnasari. Ini merupakan kritikan yang cukup pedas bagi aparatur pemerintah
dimana pun, katanya.

Menurutnya, puisi bertitel Maling ini merupakan peringatan bagi siapa pun yang
ada di muka bumi ini baik pejabat, politisi, guru sekolah, guru mengaji,
wiraswasta, maupun para petani.

Puisi Maling diperuntukkan bagi yang melakukan kejahatan seperti korupsi maupun
kejahatan lainnya. Saya pribadi, memaknai secara positif selaku pemerintah yang
diberikan amanah untuk menjadi sekprov di Sulbar ini, ungkapnya.

Sekprov menyampaikan, pembacaan puisi yang dilantungkan lewat suara merdu
seorang wanita dengan nada lantang merupakan yang kedua kalinya.

Beberapa tahun yang silam saya juga pernah mendengarkan puisi yang dibacakan
siswi SMA asal Kabupaten Majene. Kita berharap, kelak daerah ini melahirkan
seniman yang mampu membacakan puisi secara baik dan mampu menyampaikan makna
puisi itu sendiri, harap Ismail.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sulbar ini menyampaikan, atas nama
pemerintah tentu memberikan apresiasi atas munculnya para generasi muda yang
handal dan memiliki kualitas.

Yang jelas banyak makna dalam bait puisi ini dan termasuk adanya ketidakadilan
yang dirasakan oleh anak anak kita, ujarnya lagi.

Karena itu kata dia, pembinaan terhadap anak harusnya menjadi tanggungjawab
bersama sehingga tumbuh kembang anak-anak di Sulbar bisa tercapai sesuai
harapan.

Yang paling penting adalah para orang tua murid juga wajib mempersiapkan
lahirnya generasi yang kuat, mempersapkan generasi yang memiliki integritas kuat
dan cerdas selaku pewaris cita cita perjuangan bangsa dan negara, kata dia.

Ismail menyampaikan, semasa kecilnya ia merasa tak secerdas dengan anak-anak
Sulbar yang masuk dalam Forum Anak.

Dulu saya bandel ke sekolah bahkan saya tidak tahu jadwal pelajaran. Namun
begitu, kekurangan itu saya tutupi dengan banyak membaca, ungkapnya.

Ismail pun tak pernah bercita-cita dan bermimpi kelak dapat menduduki jabatan
sebagai Sekprov Sulbar.

Saya pun terkejut karena muncul pertanyaan dari anak-anak itu kenapa saya bisa
sukses menjadi pejabat Sekprov. Saya hanya jawab, sukses itu datangnya dari
Tuhan dan banyak membaca, ungkap Ismail.***

You may view the latest post at
http://cerita.biz/

Best regards,
Cerita
http://cerita.biz

No comments:

Post a Comment